CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

July 02, 2014

Ramadhan Ke Empat

2 Juli 2011. Ayah pergi menghembuskan nafas terakhir. Umurku 16 saat itu, masih terbilang dini untuk menerimanya. Masih terlalu naif untuk mengerti. Masih terlalu bodoh untuk tahu apa yang harus dilakukan.

Tiga tahun pun berlalu. Ini sudah Ramadhan yang ke empat aku lewati tanpa Ayah di sisi. Ya, empat kali Ramadhan aku bertahan. Tiga kali lebaran pun terlewatkan, dan akan datang lebaran ke empat, Ayah tak bisa hadir. And I think this pain is bigger than I could possibly imagine. Aku mencoba sanggup, tinggal di rumah tanpa ada imam. Menemani Ibu yang kesepian. Bahkan dengan hal seremeh menuliskan nama Orang Tua/Wali Murid dalam kolom biodata keperluan kuliah, aku mencoba sanggup. Tapi tidak dapat dipungkiri, aku merasa kehilangan Ayah. Terlebih di bulan Ramadhan ini. Tidak ada lagi ketukan lembut di pintu kamarku untuk membangunkanku sahur. Tidak ada lagi suara merdu Ayah membaca Tartil Al-qur'an selepas sahur menunggu adzan Subuh berkumandang. Tidak ada lagi solat Subuh berjamaah di pagi hari. Tidak ada lagi ucapan salam "Assalamualaikum" ketika Ayah sampai di rumah sebelum berbuka puasa. Tidak ada lagi obrolan kecil ketika kami menyantap masakan Ibu. Tidak ada lagi seruan qomat untuk, lagi, solat berjamaah di kala Magrib. Dan tidak ada lagi gelaran sajadah besar di ruang tamu untuk tempat kami menjalankan ibadah solat tarawih ketika kami tidak sempat ke masjid.

Terlalu banyak hal yang hilang, yang empat, lima, sepuluh, lima puluh, bahkan ratusan kali Ramadhan pun aku tak bisa lupa. Mungkin karena Ayah memang untuk selalu ku ingat. Untuk selalu ku doakan. Untuk selalu ku kenang jasanya.

Ayah, Ayah melewatkan banyak sekali hal. Ayah melewatkan aku lulus dari SMA dengan nilai yang baik. Ayah melewatkan aku depresi karena ditolak SNMPTN Undangan untuk dapat kuliah di kampus yang Ayah selalu inginkan aku untuk berkuliah disana. Ayah melewatkan perjuangan dan jerih payahku dalam menembus SNMPTN Tulis. Dan Ayah melewatkan pula detik-detik pengumumannya, dan aku diterima. Aku diterima di Universitas yang selama ini Ayah mau. Aku tahu Ayah sangat ingin anak bontotnya ini kuliah di Universitas Negeri, karena ketiga kakakku semuanya lulusan Swasta. Aku berhasil, Ayah. Aku sudah semester 4 sekarang, kuliah di Universitas Indonesia. Dan Ayah melewatkan itu.

Aku masih sering mendengar tangisan Ibu di solat tahajud malamnya. Ibu kangen Ayah. Aku kangen Ayah. Kami semua disini kangen Ayah. Ayah pasti tau itu.

Ayah, aku belum bisa bikin Ayah bahagia. Allah hanya memberikan aku 16 tahun untuk mengenal Ayah, dan aku menyia-nyiakannya. Aku sering tidak nurut. Sering pulang telat ketika Ayah larang. Sering pura-pura tidur ketika Ayah menyuruhku mengaji. Aku sering membuat Ayah geram, tapi Ayah tidak marah. Semuanya Ayah pendam. Dan aku makin menyesal karena itu semua. 16 tahun kesempatan yang ku punya untuk membuat Ayah tersenyum, namun ku buang begitu saja. Dan sekarang aku sangat ingin mengambil, tidak semua, mungkin hanya 2 atau 3 tahun dari itu, to make you happy in every single second without doing anything else. Namun itu semua hanya angan. Aku sedih, Ayah. Aku menyesal.

Empat Ramadhan akan berlalu. Aku masih terpaku. Aku rindu.

June 27, 2014

Issues

Do you believe people can grow up over some issues? And how those issues build a deeply distressing wound nothing can heal? Do you believe that?

***

Dia bimbang.

Kamu tahu dia getas. Dia tahu rasanya dijatuhkan dari tebing tinggi sampai ke dasar jurang. Dia tahu rasanya terkejut akan perubahan drastis suhu udara. Dia tahu persis itu semua. Dia kuat, tapi getas. Kamu pukul, maka dia jatuh. Kamu tusuk, dia akan tersimpuh. Kamu tahu kalau dia itu rapuh.

Dulu kamu berkata kamu bisa membuatnya tangguh. Kamu akan menuntunnya mendaki bersama, dan akan menempatkan dia di atas sana. Dia ragu, dia takut kalian tidak akan sampai. Mendaki tidak semudah terjun, butuh energi yang besar serta waktu yang cukup lama untuk sampai. Namun janjimu sungguh meyakinkan, membuat dia akhirnya setuju untuk melewati tangga-tangga itu bersama kamu.

Energinya yang dibutuhkan sangat besar. Dan kalian kehabisan. Kalian baru sampai di suhu kamar, masih jauh untuk mencapai suhu optimum untuk perlakuan. Dia mulai lelah, sudah ku bilang dia getas, dan kamu pun mulai lelah akan kelelahannya. Sungguh gawat. Kalian harus terus mendaki, jangan berhenti disini. Dia akan retak, pecah, rusak. Kamu tidak tahu kamu tidak menginginkan itu. Yang kamu tahu hanya satu, kamu lelah dan kamu berkata sudah.

"Terus saja kau ke atas, nanti ku beritahu jalannya" lanjutmu.
Dia hanya diam, mematut diri dan merutuk "harusnya aku tidak ikut, aku di bawah saja"
"Kalau begitu kembalilah ke bawah, mungkin disitulah tempat terbaikmu" katamu lagi, yang bisa ku tambahkan sedikit, kamu jahat.

Dia lemah, dia getas. Sebentar lagi dia akan patah. Kamu tahu hanya kamu yang bisa mencegah. Tolong bantu dia.


Kisah tentang fasa martensit yang butuh annealing.

September 25, 2013

Sophomore Year

Saya ngga ngerti ya, dulu pas SMA semuanya terasa simpel banget. Ngga cuma soal akademis yang lebih manusiawi, juga soal pergaulan dan lingkungan sekitar saya. Kayaknya dulu mau saya pake baju itu-itu aja setiap pergi, mau nangis di koridor sekolah bareng Odah, mau berantem sama Panjul sampe dramatis banget, mau main nge-gank sama beberapa orang aja, semuanya tetap baik-baik saja. Keadaannya tetap tentram. Orang-orang ngga ada yang berkomentar. Ngga ada juga stabbers yang ngomongin saya ngumpet-ngumpet.

Dikiranya makin gede orang makin dewasa. Ya ngga tau sih kasus ini intinya peduli atau lancang, tapi mendingan ngga usah ikut-ikutan ngomong kalo permasalahannya aja duduknya jauh sama kamu. Situ kan bukan juri x-factor, ngga perlu lah komentarin hidup saya.

Sekalinya posting marah-marah kan gua. Komentarin lagi gih sini.